Mengatasi masalah kartu kredit terlanjur macet

Berikut tips mengatasi masalah kartu kredit macet yang sering membikin para nasabah puyeng 7 keliling karena terlilit bunga kartu kredit yang ganas.
Pada tulisan ini kita akan membahas tips bagaimana mengatasi masalah kartu kredit macet yang sudah terlanjur bermasalah.

Mengatasi masalah kartu kredit terlanjur  macet
Mengatasi masalah kartu kredit terlanjur  macet



Tips mengatasi masalah kartu kredit macet :

  1. Jangan pernah menerima tawaran asuransi dari pihak pengelola kartu kredit. Mengapa demikian? Karena sifatnya sepihak dan tidak ada perjanjiannya.
  2. Para pengguna kartu kredit biasanya sering menerima telpon dari pihak bank yang menawarkan asuransi dengan format yang berbeda-beda.
  3. Ada yang menawarkan asuransi yangg menjamin tagihan kita akan di cover oleh pihak asuransi apabila kita sakit keras, cacat atau meninggal.
  4. Penawaran ini terlihat menarik bagi orang awam, tentu kita tidak ingin mewariskan hutang pada keluarga saat kita sakit atau meninggal.
  5. Tapi kita perlu tahu bahwa hutang kartu kredit itu tidak diwariskan dan tidak dapat dipindah tangankan.
  6. Artinya hutang kartu kredit kita tidak boleh ditagihkan kepada pihak lain selain pihak pemegang kartu kredit itu sendiri.
  7. Selain itu kita juga perlu tahu bahwa sesungguhnya kartu kredit kita itu secara otomatis sudah diasuransikan saat pertama kali diterbitkan.
  8. Informasi seperti ini selalu disembunyikan oleh pihak bank. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk “mencuri” dari nasabahnya sendiri.
  9. Buat apa kita membayar premi asuransi yang secara otomatis dan gratis sudah menjadi hak kita?
  10.  Mengapa CC kita otomatis diasuransikan oleh pihak bank? Karena itu adalah kebutuhan pihak bank, bukan konsumen.
  11.  Karena sifatnya yang sepihak maka hutang kartu kredit bersifat tidak mengikat pemegangnya dan tidak ada undang-undangnya.
  12. Artinya jika terjadi resiko terhadap hutang pemegang kartu kredit maka pihak bank sesungguhnya tidak dapat melakukan apa-apa.
  13. Itulah sebabnya mengapa pihak bank secara otomatis mengasuransikan kartu kredit yg diterbitkannya. Demi mengurangi resiko bisnis mereka.
  14. Lihatlah, betapa baiknya kita yang bersedia mengorbankan diri demi mengamankan resiko bisnis bank. Apa kita sudah terlalu kaya?
  15. Lihatlah pula betapa liciknya pihak bank yang berupaya mengalihkan pengeluaran atas resiko bisnis mereka ke pundak para konsumennya.
  16. Selain itu, asuransi yang ditawarkan pihak pengelola kartu kredit juga ada yang menawarkan klaim sejumlah uang tertentu jika kita meninggal.
  17. Kira-kira apakah klaim tersebut bisa diurus? Meragukan, mengingat tidak ada perjanjiannya. Proses persetujuannya pun hanya melalui telepon.
  18. Kasus ini mirip dengan penawaran asuransi yang sering kita temui di bandara. Siapa yang tahu bahwa kita sudah beli asuransi?
  19. Buktinyapun juga kita bawa terbang pada saat itu. Apabila pesawat jatuh, lalu kita meninggal. Siapa kira-kira yang bisa menagih klaimnya?
  20. Tips selanjutnya adalah: Jangan gunakan fasilitas “auto debet”. Fasilitas autodebet memang memudahkan tapi berbahaya.
  21. Banyak kasus kenakalan pihak bank pengelola kartu kredit yang membuat kita suka tidak suka terpaksa membayarnya jika menggunakan fasilitas auto debet.
  22. Contoh, banyak kasus dimana nasabah yang sudah menutup kartu kredit-nya ternyata secara sepihak tidak ditutup oleh pihak bank pengelola.
  23. Karena menggunakan fasilitas auto debet, tiba-tiba uang nasabah langsung dipotong untuk biaya annual fee atau biaya-biaya lain.
  24. Yang lebih berbahaya lagi jika kartu kreditnya kita disalahgunakan atau digandakan pihak lain. Kita tidak punya kesempatan untuk menolak membayar.
  25. Dengan tidak menggunakan fasilitas autodebet kita bisa menolak tagihan yang kita anggap tidak kita transaksikan atau tagihan yang tidak fair.
  26. Jadi menggunakan fasilitas auto debet bukanlah pilihan bijak, karena menempatkan kita pada posisi pasrah bongkokan.
  27. Tips berikutnya, jangan pernah menyetujui penawaran pihak CC untuk mengelola tagihan-tagihan kita seperti tagihan telpon, listrik, dll.
  28. Menyetujui tawaran pihak kartu kredit untuk mengelola tagihan-tagihan kita akan membawa kerumitan di kemudian hari.
  29. Banyak nasabah yang kesulitan menutup kartu kredit-nya akibat kasus ini. Mereka yang sudah lama menutup kartu kredit tiba-tiba dikejutkan oleh munculnya tagihan baru.
  30. Dalam banyak kasus ternyata kartu kredit kita tidak pernah benar-benar tertutup karena masih ada tagihan telp atau listrik yang masih nyantol.
  31. Masalah lain dari penggunaan fasilitas ini adalah, kita akan terpaksa pasrah saat tagihan telp dan listrik kita tidak sesuai penggunaan.
  32. Persoalan lain dari penggunaan kartu kredit adalah adanya praktek penyebar luasan data pelanggan. Baik oleh pihak oknum maupun bank itu sendiri.
  33. Saat anda mengisi form aplikasi kartu kredit maka siap-siap lah data pribadi anda akan menyebar ke segala penjuru mata angin.
  34. Jadi jangan heran jika tiba-tiba anda ditelepon oleh pihak asuransi atau bank lain yang menawarkan produk-produk mereka.
  35. Di kalangan marketing kartu kredit, asuransi, KTA serta voucher liburan, praktik jual beli data nasabah ini sudah menjadi praktik sehari-hari.
  36. Pihak bank sendiri seperti tidak berkepentingan melindungi data nasabahnya. Bahkan mereka justru berusaha “melegalkan” praktek tersebut.
  37. Saat kartu kredit pertama kali kita terima, biasanya disertai kertas “Syarat dan Ketentuan” yang antara lain berisi hak-hak pihak bank.
  38. Dalam surat tersebut biasanya ada klausul bahwa bank berhak “membocorkan” data nasabahnya baik untuk keperluan internal maupun kepada pihak lain.
  39. Tapi apakah bank benar-benar berhak menyebarluaskan data nasabahnya? Ternyata TIDAK! Sesungguhnya ini termasuk pelanggaran berat.
  40. UU Nomor 10 Tentang Perbankan jelas mengatur mengenai “Kerahasiaan Bank”. Bank dilarang membocorkan informasi perihal nasabahnya.
  41. Masih ingat bagaimana pihak management Bank Century menolak permintaan pansus DPR untuk sebutkan nama-nama nasabah mereka?
  42. Disini jelas terbukti bahwa banyak perjanjian atau ketentuan dari pihak bank yang melanggar undang-undang.
  43. Pelajaran yang bisa kita petik disini adalah “Jangan menganggap perjanjian atau ketentuan bank sebagai hal yang selalu legal”.
  44. Meskipun kita sudah menandatangani perjanjian tersebut, tapi karena melanggar UU maka perjanjian tersebut harus dianggap batal demi hukum.

Lalu bagaimana mengatasi masalah pada hutang kartu kredit kita yg sudah terlanjur macet? Dalam bagian terakhir ini kami akan berikan cara mengatasi masalah apabila hutang kartu kredit kita sudah terlanjur macet. Namun kami tegaskan disini bahwa ini bukan mengajak para pemakai kartu kredit untuk mengemplang atau tidak membayarkan hutangnya. Bagaimanapun hutang kita tetap harus dibayarkan. Tidak membayar hutang di dunia, kita akan tetap ditagih di Akhirat. Tujuannya adalah agar mereka yang sudah terlanjur terjerat hutang kartu kredit tidak berada pada posisi yang tidak berdaya dan teraniaya. Dengan memahami betul hak-haknya maka para pemegang kartu kredit bisa berada pada posisi yang lebih “Equal” berhadapan dengan pihak pengelola kartu kredit. Semakin banyak pihak yang membaca ini, semakin kecil peluang bank penerbit kartu kredit untuk berbuat sesuka hati dan melanggar hukum.

Masih ingat kasus Irzen Octa? Kasus tersebut adalah contoh ideal perilaku melanggar hukum yang dilakukan oleh pihak Bank penerbit kartu kredit. Sebagaimana kita ketahui, Irzen Octa yang hutangnya awalnya hanya sebesar 42jt secara ajaib berlipat ganda menjadi 100jt. Itikad baik Irzen Octa untuk menanyakan hutangnya yang membengkak itu kemudian harus berakhir tragis dengan kematiannya di kantor City Bank. Pelajaran yang dapat kita petik dari kasus tersebut adalah: “Jangan pernah bersikap proaktif terhadap bank saat hutang kita macet!” Tidak akan ada penghargaan apapun dari sikap proaktif kita itu. Yang ada malah kita akan semakin ditekan atau bahkan tewas seperti Irzen Octa.
    Lalu bagaimana sebaiknya sikap kita saat mengalami kemacetan pada kartu kredit kita? “Selalulah berpegang pada hukum dan aturan!”
    Jangan lupa beri ketegasan kepada pihak kreditur bahwa kita adalah orang yang paham hukum dan peraturan yang benar mengenai kartu kredit.

Hal utama yg perlu jadi pegangan dan pengetahuan kita saat hutang kartu kredit kita macet adalah sebagai berikut:

  • Hutang kartu kredit tidak mengikat para pemegangnya dan tidak ada Undang-Undangnya.
  • Poin diatas berarti bahwa seandainya kita tidak membayar sama sekalipun, pihak bank tidak bisa melakukan apa-apa.
  • Karena hutang kartu kredit sifatnya yang tanpa agunan, maka saat pihak bank menyetujui aplikasi kartu kredit kita mereka sudah memahami betul resikonya.
  • Itulah sebabnya mengapa setiap kartu kredit yang diterbitkan oleh pihak Bank secara otomatis mereka asuransikan.
  • Berbeda dengan hutang dengan agunan / jaminan, opsi bank saat terjadi kredit macet adalah melalui proses lelang jaminan.
  • Persoalan kredit macet kartu kredit adalah persoalan hutang piutang biasa, jadi ranahnya adalah hukum perdata bukan pidana.
  • Jadi yang dapat dilakukan oleh pihak bank adalah menuntut pihak pemegang CC melalui pengadilan perdata.
  • Karena sifatnya perdata itu maka polisi pun tidak boleh ikut campur urusan ini. Polisi hanya berhak mengurusi kasus pidana.
  • Karena hutang CC tidak mengikat pemegang CC dan tidak ada UU-nya maka bisa dipastikan pihak bank akan kesulitan jika masuk ke proses hukum.
  • Inilah sebabnya maka pihak bank lebih senang memanfaatkan jasa debt collector (DC) utk mengurus masalah kredit macetnya.
  • Jadi kebijakan penggunaan jasa Debt Collector untuk menagih itu semata karena mereka tidak punya cara-cara yg “Legal” untuk menyelesaikan masalahnya.
  • Sesungguhnya ini adalah perbuatan “Makar” yang dilakukan pihak korporasi terhadap negeri ini. Mengganti negara hukum menjadi negara preman.
  • Bayangkan, apabila polisi saja tidak boleh ikut campur urusan ini. Atas hak apa DC boleh ikut campur?
  • Perlu diingat pula bahwa hutang kita tidak boleh diserahkan pada pihak lain. Dalam hal ini Debt Collector adalah pihak ketiga.
  • Ingat, hutang kita adalah kepada bank, bukan pada Debt Collector. Yang berhak berurusan dengan kita adalah pihak Bank, bukan Debt Collector!

Dari penjelasan diatas kita sudah bisa memahami bahwa posisi pemegang kartu kredit sesungguhnya jauh lebih kuat dibanding pihak bank. Pemahaman tersebut harus menjadi dasar sikap dalam mengatasi masalah kredit macet kartu kredit kita. Yang sering terjadi saat kartu kredit kita mulai macet adalah seperti “sudah jatuh tertimpa tangga”. Baik secara finansial maupun psikis kita akan ditekan. Biasanya tagihan kita akan terkena “bunga berbunga”. Seperti contohnya Irzen Octa itu, hutang dari 42jt membengkak jadi 100 jt.

  1. Hal pertama yang harus kita lakukan saat kartu kredit kita mulai macet adalah menghubungi call center bank yang bersangkutan.
  2. Sampaikan kepada operator bahwa kita kesulitan dalam membayar hutang kartu kredit kita. Jangan lupa meminta nomor laporan, catat dan simpanlah.
  3. Biasanya terjadi proses negosiasi yg alot disini. Jangan berharap pihak bank begitu baik hati akan memenuhi permintaan kita.
  4. Tapi ingat sekali lagi bahwa posisi kita jauh lebih kuat dibanding bank! Bukan kita yg layak panik disini, tapi bank!
  5. Perlu dipahami pula bahwa kita berurusan dengan sistem, bukan dengan personal, jadi respon mereka pun berdasarkan sistem.
  6. Bank tidak akan percaya begitu saja saat kita katakan tidak mampu membayar, sementara tagihan seblumnya lancar-lancar saja.
  7. Bank baru menganggap hutang kita betul-betul macet setelah kita gagal bayar selama dua bulan atau lebih. 
  8. Selama proses macet ini siap-siaplah telp kita diteror setiap saat dengan cara-cara yang kurang menyenangkan.
  9. Terhadap penelpon, sampaikan saja bahwa kita telah menyampaikan ketidakmampuan membayar. Berikan nomor laporannya. 
  10. Siap-siap pula kita didatangi pihak Debt Collector yg mungkin akan menagih ke rumah atau kantor kita. Cara menagihnyapun mungkin kurang menyenangkan.
  11. Kepada pihak Debt Collector beri ketegasan bahwa kita tidak bersedia berurusan dengan mereka. Sampaikan bahwa kita hanya berurusan dengan pihak bank.
  12. Ketika Debt Collector mengatakan bahwa mereka punya surat tugas dari bank. Sampaikan pada mereka bahwa hutang kartu kredit tidak boleh diserahkan pada pihak lain.
  13. Sampaikan pula pada mereka bahwa kasus ini adalah kasus perdata. Polisi saja tidak berhak ikut campur kasus perdata apalagi Debt Collector.
  14. Jika Debt Collector mulai menunjukkan sikap yang mengganggu kenyamanan, sampaikan bahwa jk mereka masih mengganggu maka kita akan menuntut pihak bank.
  15. Dalam kondisi ini sangat penting bagi kita untuk menunjukkan kepada pihak DC bahwa kita adalah orang yang mengerti hukum.
  16. Meski ditekan, jangan sekali-kali memberikan janji apapun pada Debt Collector! Saat kita kita sampai mengeluarkan janji, maka kita akan terjebak. 
  17. Apabila Debt Collector masih ngotot mengganggu, jangan segan-segan meneriaki mereka maling / rampok supaya diberi pelajaran oleh massa atau tetangga.
  18. Ingat! Rumah kita adalah teritori kita! Kita berhak mengusir siapapun yang tidak kita kehendaki dari rumah kita.
  19. Saat Debt Collector memaksa masuk ke rumah kita, maka itu sudah merupakan pelanggaran hukum. Jangan segan-segan mengusir mereka.

Penting diingat!! Jangan sekali-kali membayar tagihan hutang kartu kredit kita pada pihak Debt Collector! Uang kita tidak akan disetor ke bank!  Mengapa demikian? Sesungguhnya banyak terjadi permainan busuk di level oknum pegawai bank dengan pihak Debt Collector! Sebagaimana kami sampaikan di awal bahwa hutang kartu kredit kita sesungguhnya sudah dicover oleh asuransi sebagai antisipasi resiko macet. Saat hutang kartu kredit kita macet total, maka oleh pihak bank hutang kita akan di “write off” atau dihapus bukukan. Tapi oleh oknum bank, kesulitan nasabah justru mereka manfaatkan sebagai “peluang bisnis” yang menggiurkan. Ada beberapa cara yg biasa dilakukan oleh oknum bank untuk memanfaatkan kesengsaraan orang menjadi sumber rejeki mereka:
Hutang kita yang sudah dilunasi pihak asuransi itu secara sengaja tidak diinput ke dalam sistem. Jadi masih dianggap belum lunas.

    Lalu mereka menyerahkan tagihan hutang kita ke pihak ketiga/Debt Collector. Pihak ketiga inilah yangg akan menagih hutang kita yang sudah lunas itu.
    Apabila Debt Collector berhasil menagih sebagian atau seluruh hutang maka uang tersebut tidak akan disetor ke bank. Tapi dibagi-bagi antara pihak oknum bank dan pihak DC serta oknum-oknum yang lain.

Hutang kartu kredit kita dilelang oleh oknum bank kepada pihak ketiga/Debt Collector.
Cara ini jauh lebih aman bagi si oknum karena langsung terima uang didepan. Tapi cara ini akan sangat merugikan nasabah karena pihak Debt Collector yang merasa sudah keluar modal akan menggunakan segala cara untuk menagih.

Beruntunglah akibat kematian Irzen Octa, saat ini Debt Colector mulai berhati-hati dalam menagih hutang. Kita wajib berterimakasih pada beliau. Dari penjelasan diatas, tidak salah bukan jika kami mengatakan bahwa bisnis ini adalah “bisnis iblis”? Kedua poin diatas biasanya terjadi pada hutang yang sudah lama macet. Tidak heran banyak nasabah yg terkaget-kaget. Setelah bertahun-tahun tiba-tiba hutangnya seperti bangkit dari kubur. Makin kaget mereka saat menemukan hutangnya membengkak fantastis!

Dengan memahami tulisan ini, mereka hutang kartu kredit-nya macet bisa melakukan negosiasi pengurangan atau bahkan pemutihan hutang:

  • Kuncinya, makin lama hutang kita macet makin kuat posisi tawar kita! Hutang yg baru macet sebulan tidak akan digubris.
  • Saat hutang kita mulai macet lebih dari lima bulan maka bank akan semakin pasrah, mereka sudah berpikir tentang cut loss.
  • Disini kita bisa menawar keringanan untuk hutang kita. Makin kuat negosiasi kita makin besar keringanan yg kita dapat.
  • Dalam proses negosiasi ini harap selalu mengingat bahwa hutang kartu kredit kita dicover oleh asuransi!
  • Dan pihak bank tidak memiliki cara legal untuk memaksa kita membayar hutang kartu kredit kita. Kita paksa bank mengikuti aturan yg berlaku.
  • Dengan negosiasi yang tepat kita bisa mengurangi hutang antara 50% - 75%. Bahkan bisa dihapuskan sama sekali jika kita pintar bernegosiasi.
  • Sekali lagi ingat! Semakin lama hutang kita macet, semakin kuat daya tawar kita! Jangan ragu-ragu bernegosiasi!

Pengetahuan yang kami berikan dalam tulisan ini seperti pedang bermata dua. Bisa anda gunakan untuk kebaikan atau keburukan. Bisa anda gunakan untuk menghindarkan diri anda menjadi pihak yang terzholimi saat berada dalam kesulitan. Atau bisa anda gunakan sebagai alasan berbuat curang, menghindari tanggung jawab membayar apa yang sudah anda nikmati. Bagaimana anda akan memanfaatkan pengetahuan ini mencerminkan karakter dan kepribadian anda! Sekali lagi, yang namanya hutang pasti ada pertanggung jawabannya.., baik di dunia maupun di akherat. Jika anda jadi pengemplang kartu kredit, di dunia anda akan terkena KUTUKAN BLACKLIST BI.
Baca juga :
Sekian. Semoga mencerahkan dan bermanfaat. Salam!

Baca Juga : Mengapa Pengajuan Kartu kredit selalu di tolak bank? Inilah Solusinya

(di kutip dari berbagai sumber)


SILAHKAN BACA JUGA :






1 comments

Anonymous said...

bos gmn carany apabila data kita terlanjur dijual beli oleh oknum bank??